Penyebaran Islam di Kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo

Menurut Prof. Dr. Ahmad M. Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa : Abad XVI sampai abad XVII, Sultan Alauddin kemudian mengeluarkan dekrit pada 9 November 1607 bahwa kerajaan Gowa sebagai kerajaan Islam dan pusat Islamisasi di Sulawesi Selatan. Untuk merealisasikan dekrit itu, Sultan Alauddin mengirim utusan ke kerajaan – kerajaan tetangga dengan membawa hadiah untuk para raja. Kerajaan Kerajaan yang menyambut baik antara lain Sawitto, Balanipa, Bantaeng, dan Selayar.

Selain dengan jalan damai, menurut Ahmad, penyebaran Islam juga dilakukan dengan peperangan. Tiga Kerajaan Bugis : Bone, Wajo, dan Soppeng yang tergabung dalam aliansi Tellumpoccoe (tiga kerajaan besar), Persekutuan untuk menghadapi Kerajaan Makassar, menolak seruan agar memeluk Islam. Maka, pecahlah perang antara kerajaan Makassar yang terdiri dari kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo. Menurut lontara Bugis perang itu disebut mussu selleng (perang pengislaman). Meskipun terjadi perang dengan raja-raja Bugis yang menolak ajaran pengislaman akibat kesalahpahaman, Gowa senantiasa tetap menyebarkan Islam menurut prinsip dakwah Islamiyah.

Bagi masyarakat Bugis perang itu dianggap Sebagai musu selleng (perang pengislaman) yang menyimpan banyak korban dan dendam. Ahmad menyatakan bahwa terlepas dari motivasi yang mendorong Sultan Alauddin mengumumkan perang terhadap kerajaan-kerajaan Bugis, perang itu menguntungkan proses Islamisasi di Sulawesi selatan sebab diiringi dengan pengislaman terhadap raja-raja yang ditaklukkan.

Gowa menaklukkan kerajaan Soppeng pada 1609, Kerajaan Wajo pada 1610 dan kerajaan Bone pada 1611. Dengan Raja Bone masuk Islam,sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan telah memeluk Islam, kecuali Tana Toraja. Dengan demikian proses Islamisasi antara 1605-1611 merupakan periode penerimaan Islam secara besar-besaran.

Aliansi tellumpoccoe adalah aliansi yang melibatkan tiga kerajaan Bugis, yaitu Bone, Soppeng, dan Wajo. Alliansi ini didasarkan pada keinginan untuk mengikat tali persaudaraan ketiga kerajaan Bugis tersebut. Selain itu motifnya adalah untuk bersatu menentang agresi Kerajaan Gowa yang merupakan penguasa adi daya di daratan Sulawesi pada zamannya.

Akhir dari kesepakatan ini pecah adalah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh Armada gabungan Bone, Soppeng, VOC, dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu, La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani perjanjian Bungayya. Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan wajo, tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone,dibawah pimpinan Arung Palakka.

Terjadi perang antara Gowa dengan kerajaan Bone, Soppeng,dan Wajo ini disebabkan oleh 3 kerajaan bugis yang tergabung dalam aliansi Tellumpoccoe menolak seruan agar memeluk Islam. Maka pecahlah perang antara kerajaan Gowa dan kerajaan Bone Soppeng, Wajo yang disebut sebagai musu selleng (perang pengislaman).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *